Ketika tren dan validasi sosial perlahan membentuk cara hidup generasi muda.
BOGOR - Di banyak kota besar, kedai kopi sekarang bukan hanya sekadar tempat untuk menikmati makanan atau minuman. Lokasi-lokasi ini secara perlahan bertukar menjadi ruang untuk bersosial, tempat menyelesaikan kerja, area untuk mencipta konten, hingga menjadi lambang cara hidup. Perkara ini semakin jelas dalam kehidupan pelajar dan golongan muda.
Masalahnya, kebiasaan berkumpul sekarang bukan hanya sekadar kebutuhan untuk bersantai atau bertemu sahabat. Ada pula dorongan sosial yang tidak tampak: keinginan untuk diakui mengikuti tren. Adanya media sosial menjadikan tempat makan, minuman terbaru, dan lokasi yang ramai diperbincangkan menjadi bagian dari identitas cara hidup seseorang.
Media sosial memainkan peran penting dalam membentuk sudut pandang itu. Gambar menarik di kafe, postingan teman yang terlihat energik, dan konten tentang gaya hidup menciptakan norma sosial yang baru. Tanpa disadari, banyak remaja mulai membandingkan diri mereka dengan kehidupan orang lain yang tampak ideal di layar.
Sebenarnya apa yang ditampilkan di media sosial tidak selalu mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Yang sering terlihat hanyalah bagian dari momen-momen terbaik. Namun karena terus melihat hal yang sama, beberapa orang merasa harus mengikuti cara yang sama agar tidak dianggap ketinggalan.
Di antara para mahasiswa, fenomena ini bisa menyebabkan beban keuangan. Banyak yang bersedia menghabiskan uang ekstra untuk bisa masuk dalam lingkungan sosial. Kadang-kadang berkumpul bersama teman memang tidak ada masalah. Namun, masalah timbul saat pengeluaran hanya dilakukan untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain atau karena ketakutan dianggap berbeda.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa cara masyarakat mengonsumsi barang dan jasa mengalami perubahan sejalan dengan perkembangan gaya hidup dan pertumbuhan kota. Perubahan ini menunjukkan bahwa gaya hidup saat ini memengaruhi cara masyarakat, terutama generasi muda, dalam mengeluarkan uang.
Solusinya bukan dengan menghindari pertemanan atau tidak bergaul. Kaum muda masih memerlukan tempat untuk bersosialisasi dan bersenang-senang. Yang harus dipahami adalah kebersamaan tidak selalu memerlukan biaya tinggi. Bertemu dengan sahabat tidak harus dilakukan di lokasi yang trending, dan mutu hubungan tidak tergantung pada harga makanan yang dipesan.
Karena pada akhirnya, pentingnya sebuah persahabatan tidak dilihat dari posisi seseorang, melainkan dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
